BERIKAN LELAHMU PADA EMAK

Nandaku tercinta
Raihlah cita-citamu setinggi langit
Lelahmu biar emak yang ambil
Terngiang penggalan kalimat di seratus hari kepergian beliau

Pikiranku melayang ke masa tiga puluh tahun lalu
Emak yang selalu menyemangatiku untuk sekolah
Sekolah di seberang kata orang-orang
Dulu hanya surat pengobat rinduku pada emak
Berulang kali kubaca surat emak saat rindu menyesakkan rongga dada

Di sepanjang jalan di salah satu gugusan pulau matahari terbit
Aku merenung dan menerawang ke masa silam
Bulir-bulir air kian berjatuhan
Suratmu adalah energi terbesarku emak
Tuntunan dalam menata kehidupanku di Jakarta

Lalu.. emak dan bapak..
Lelahku telah kau bawa di peristirahatan terakhirmu
Tak kuasa mataku terpejam
Bendungan kelopak mata rubuh
Lalu segelombang air mata menderas meretas pematang bola mata
Dan bertemu salju yang menerpa wajahku di kaki gunung fujiyama

Hembusan angin dingin 4 derajat membangunkaku dari lena
Aku bangkit.. pelan-pelan kupasang sepatu dan jas dingin yang kugantung di balik pinti bilik prayer
Emak.. bapak.. biarlah lelahku berganti do’a untukmu selalu
Di 100 hari ku tiada bersamamu..

Allahummaghfirlahum warhamhum waafihi wa’fuanhum…

Categories : Cerita saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *