Ber’obat’ atau Ber’konsultasi’ ??

Tidak terasa diskusi saya dengan pak Untung sudah memakan waktu 55 menit, bahkan perawat yang mendampingi saya melayani pasien memberi kode waktu bahwa pasien lain masih banyak menunggu.

Pak untung yang berumur sekitar 60 tahun itu memiliki banyak pertanyaan, ditambah dengan isterinya yang juga senang menanyakan hal-hal yang kadang-kadang tidak berhubungan dengan keluhan yang dirasakan suaminya.

Berawal dari memindahkan barang barang kantor ke tempat baru, Pak Untung merasakan nyeri pinggang setelah ikut-ikutan memindahkan lemari. Dan nyeri itu hingga diskusi kami berlangsung tidak hilang. Pertanyaan pak untung adalah…
boleh kah saya meminum produk herbal,
bolehkah saya diurut,
bolehkah saya naik motor ke kantor dan banyak pertanyaan lainnya….

Mendapati pertanyaan bertubi-tubi dari pak Untung saya jadi bertanya-tanya dalam hati, ini si bapak sudah mengerti belum sih apa yang sesungguhnya terjadi pada punggungya, kenapa ya dia malah mikirin produk herbal, urut, dan sebagainya… tetapi tidak bertanya dan tidak ingin tau bagaimana penjelasan nyeri yang saat ini dia rasakan???

“….ya semuanya boleh saja pak… tapi apa bapak sudah mengerti apa yang terjadi pada punggung bapak sehingga menimbulkan nyeri…. apa bapak sudah paham manfaat hal hal yang bapak tanyakan diatas???” jawab saya dan balik bertanya pada pak Untung.

Melihat ekspresi pak Untung yang mengernyitkan dahinya, saya yakin bahwa pak Untung sesungguhnya tidak paham apa-apa tentang nyeri yang dia rasakan.

“Kultur” sebagian besar orang indonesia yang hampir selalu mengambil keputusan berdasarkan iklan baik televisi, radio maupun media cetak seperti iklan obat, klinik tradisional dan macam macam klinik sejenis lainnya membuat tradisi “berobat’ (bukan “berkonsultasi”) menjadi kebiasaan.

Menurut saya ada perbedaan mendasar istilah “berobat” dengan “berkonsultasi”.
Berobat adalah ketika seseorang pergi mencari pertolongan untuk mendapatkan obat, berbeda dengan berkonsultasi dimana seseorang mencari pertolongan dengan mendapatkan nasehat tatalaksana setelah mendapatkan penjelasan yang detil mengenai masalah yang dialami, bisa jadi dokter tidak memberikan obat.

“Baiklah pak Untung… saya pikir dari penjelasan bapak saya menduga terdapat penekanan saraf yang disebabkan oleh gangguan struktur bantalan sendi di daerah tulang pinggang bapak bagian bawah.
Saya menduga ini adalah suatu herniasi nukleus pulposus.
Bapak bisa baca di internet dengan kata kunci ‘herniation of nucleus pulposus”.
Silakan bapak cari dan pada pertemuan selanjutnya dapat kita diskusikan.
Dan bila ada yang bapak belum mengerti silakan hubungi saya melalui email, atau telepon genggam saya…
Saya merencanakan 3 pemeriksaan penunjang yaitu foto rontgen lumbal, MRI lumbal dan pemeriksaan EMG.
Setelah hasilnya tersedia kita dapat bertemu lagi”
Saya memberikan penjelasan dan membuat perencanaan kepada pak Untung.
Saya juga meminta anak dan isteri beliau untuk belajar dan cari informasi tentang HNP dan sebagainya.
Saya berharap pada pertemuan berikutnya saya bisa berdiskusi lebih detil dengan pasien dan keluarganya memahami apa yang menjadi masalah pada Pak Untung.

Lima puluh lima menit.., akhirnya alih cara berpikir dapat saya laksanakan walaupun dengan beberapa keluhan dari perawat dan pasien yang menunggu. Namun sebagai seorang dokter bedah tulang belakang saya cukup puas dengan diskusi ini. Saya berharap banyak pasien dan keluarganya menjadi paham akan fenomena yang berlangsung pada dirinya. Dengan demikian saya dapat dengan mudah memberikan nasehat langkah apa sebaiknya yang harus dilakukan, apakah obat herbal, pijit, urut dan pengobatan tradisional yang tidak diketahui seperti apa tatalaksananya mampu mengatasi masalah yang sedang dia harapkan.

Saya berharap setiap pasien mau bertanya kepada dokter, shinshe dan tukang obat lainnya bagaimana penjelasan keluhan yang sedang dia rasakan, bukti bukti apa yang mendukung keputusan dia memberikan obat atau manipulasi yang akan dia berikan.
Sungguh sangat berbahaya apa bila kita mengkonsumsi sesuatu (obat sesungguhnya adalah racun..) apa bila penyakit yang dikeluhkan tidak dipahami dengan baik…

Categories : Saya dan pasien

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *