Dok, Bapak Sekarang Sudah Dapat Shalat Duduk di Kursi Roda

“…dok…. bapak sekarang sudah dapat shalat duduk di kursi roda…”
Pelan pelan saya baca tulisan di gejet butut saya. Sambil mengingat ingat pasien yang mana..
Saya mencoba mereka-reka pesan singkat ini ditujukan untuk pasien yang mana. Tahun 2014 ini saya menangani lebih dari sepuluh kasus penyebaran keganasan di tulang belakang. Hampir seluruh kasus merupakan rujukan dari sejawat dari onkologi orthopaedi dan bedah onkologi.

“…. bapak saya adalah pasien yang dokter nasehati bahwa tujuan operasi adalah agar bapak saya bisa shalat lagi ke mesjid walaupun dengan kursi roda. Kemoterapi bertujuan untuk membunuh sel kankernya…”
Pesan singkat kedua ini mengingatkan saya pada seorang lelaki berumur sekitar 55 tahun, yang sudah terbaring lebih kurang 8 bulan, dengan kekuatan kaki yang tidak lagi bisa menopang badannya. Dia tampak kurus kering, sulit makan dan semangat hidup yang terkesan redup.

Pada pertemuan pertama dengan pasien ini saya mencoba membangkitkan semangatnya, menguraikan natural history metastasis tumor tulang belakang, dan logical action yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien sehingga dia bisa dudduk dan beribadah shalat berjamaah lagi…

Kegembiraan saya menerima pesan singkat lewat gejet butut saya seolah melupakan beberapa kali pertemuan yang melelahkan tentang bagaimana meyakinkan pasien, keluarga dan beberapa pengunjung yang seakan mendera si pasien agar tetap terbelenggu oleh penyakitnya yang diobati dengan cara alternatif yang sulit diterima akal sehat.

Beberapa kali nasehat upaya memperkuat tulang belakangnya selalu gagal…. hingga akhirnya pesan singkat itu datang juga…..

Selamat ya pak, harapan saya bapak dapat mewujudkan mimpinya berkumpul shalat berjamaah di Mesjid walaupun diatas kursi roda….. mumpung masih di suasana ramadhan….

(Ditulis ulang dari FB tanggal 24 Juli 2014)

Categories : Saya dan pasien

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *