Dikira infeksi tulang belakang, setelah lebih dari 30 tahun baru ketahuan ternyata kanker yang menyerang tulang belakang

28 Mei 2012

Ibu itu sudah berumur 70 tahun lebih ketika datang ke saya. Dengan keluhan nyeri yang hebat dan sudah pula berobat ke banyak tempat mulai dari pengobatan tradisional hingga ke pengobatan modern. Pun ibu itu telah pula dilakukan dua kali operasi pada tahun 1980 dan 5 tahun kemudian. Diagnosis yang bermacam-macam mulai dari kesambit setan oleh dukun hingga pada spondylitis tbc oleh dokter modern menyebabkan pengobatan ibu ini menjadi tidak karuan. Pun sudah bertahun-tahun ibu ini meminum obat tbc, obat nyeri, obat sesak dan berbagai obat tradisional yang bahkan didatangkan dari China. Masih belum menghasilkan, bahkan si ibu makin merasa nyeri tidak hanya tulang belakang, juga perut akibat meminum obat nyeri dalam jangka lama, serta  sesak.

Pertama kali saya melakukan pemeriksaan pada ibu ini hati saya berdetak serta pikiran saya sudah menduga sepertinya si ibu mengalami penyakit bukan infeksi tbc tulang belakang. Saya menduga diusia seperti ini sangat mungkin suatu kanker. Pikiran ini masih saya simpan dan saya masih mengikuti pemikiran lama bahwa si ibu menderita spondylitis TBC. Dari pemeriksaan lanjutan dugaan saya semakin kuat bahwa ibu ini tidak mengalami spondylitis TBC namun suatu kanker tulang belakang namun ini tentu saja harus saya buktikan. Dari pemeriksaan MRI tulang belakang pun saya melihat sudah terdapat kerusakan lebih dari 4 ruas tulang belakang. Bahkan tulang belakang si ibu pun sudah mulai bengkok ke samping dan bungkuk ke depan. Tidak saya temukan gambaran nanah atau tumpukan jaringan yang menyerupai gambaran “spindle”. Gambaran ini tidak lazim pada infeksi tbc tulang belakang.

Dari pertemuan pertama dan kedua dengan keluarga pasien, saya kemudian mendiskusikan bahwa saya memiliki pandangan lain yang perlu dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologi dengan pandangan sebelumnya. Dugaan saya adalah nyeri pada tulang belakang yang hebat serta penyakit yang tidak kunjung sembuh pada lebih dari 30 tahun sangat mungkin suatu kanker. Tentu saja analisis ini sedikit mengejutkan dan membuat keluarga sedikit terganggu. Namun informasi ini perlu saya sampaikan.

“Bila ibu dan keluarga setuju maka saya akan lakukan operasi stabilisasi tulang belakang sekaligus diambil jaringan tulang belakang nya untuk dibuktikan bahwa terdapat kanker atau infeksi pada tulang belakang” demikian penjelasan saya pada keluarga yang akhirnya dengan berat hati menyetujui prosedur yang akan kami jalani.

Persiapan operasi pun dimulai, saya dan beberapa ahli paru, jantung, penyakit dalam dan anestesi langsung mempersiapkan segala sesuatunya untuk toleransi operasi dan persiapan operasi. Cukup mengagetkan saya ketika pada case conference ahli paru mengatakan bahwa terdapat gambaran massa yang diduga kanker didaerah paru penderita yang bisa juga adalah infeksi tbc.

Saya mulai mendapatkan titik terang sekaligus dukungan data bahwa sangat mungkin kanker paru si ibu (bila dugaan ahli paru itu benar) sudah menyebar ke tulang belakang. Sungguh menggembirakan saya karena diagnosis sudah mulai terang namun tentu akan menjadi mimpi buruk bagi keluarga dan pasien sendiri.

Buat sementara saya menunda pelaksanaan operasi dan meminta ahli paru memastikan dugaan kankernya dengan melakukan suatu prosedur biopsi jaringan paru dengan menggunakan jarum. Ternyata hasilnya memang terbukti kanker paru yang secara histopatologi digolongkan pada adenocarcinoma paru.  Informasi ini semakin mengagetkan saya, dan diagnosis menjadi lebih terang.

Kembali informasi ini kami diskusikan dengan keluarga berikut prognosis penyakit ini yang tidak menggembirakan. Hal penting berikutnya adalah apakah operasi masih perlu dilakukan? Menurut pemikiran saya tetap diperlukan demi untuk memperkuat struktur tulang belakang  penderita dan mengambil jaringan untuk diperiksa apakah kelainan ditulang secara histologis sama dengan kelainan di paru. Keluarga menyetujui dilakukan operasi dengan tujuan seperti yang sudah kami ceritakan dan dengan segala kemungkinan terburuk yang dapat saja terjadi pada pasien.

Keputusan operasi bukan tanpa risiko. Dokter anaestesi mengatakan pasca operasi dapat saja terjadi prolong ventilator di icu yang disebabkan karena gangguan fungsi parunya. Dokter paru mengatakan hal yang sama. Lantas sebaiknya bagaimana? Keputusan operasi akhirnya bulat antara tim dokter dan keluarga serta pasien.

Innalillahi wainnailaihi raajiuuun….. 6 hari pasca operasi tulang belakang yang walaupun dianggap sukses menurunkan penderitaan nyerinya,  si ibu dapat duduk dan berbaring dengan nyeri yang minimal, serangan kanker parunya tidak dapat dihentikan.

Saya mendoakan beliau menjumpai penciptanya dalam rahmatNya. Selamat jalan ibu.

 

Disalin dari: https://www.facebook.com/notes/rahyus-salim/dikira-infeksi-tulang-belakang-setelah-lebih-dari-30-tahun-baru-ketahuan-ternyat/10150920522978599

Categories : Saya dan pasien

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *