Berjalan lagi setelah operasi sebaran kanker payudara ke tulang belakang

18 Juni 2012

Wanita umur 30 tahunan itu tampak pucat, kurus dan mengerang kesakitan ketika pertama kali saya datangi di bangsal salah sebuah rumah sakit. Saya datang karena mendapat konsul dari salah seorang kolega dokter ahli onkologi. Lembaran hijau yang masih saya pegang kembali saya baca “mohon evaluasi penderita dengan lumpuh pada kedua tungkai, diduga suatu metastasis kanker payudara ke tulang belakang”. Sekilas saya amati lekat2 wanita itu, sambil saya lemparkan seutas senyum untuk menyapa dan memperkenal diri. Saya minta dia menyebutkan namanya kemudian bercerita mengenai penyakitnya. Oh… wanita ini ternyata sudah lebih 2 tahun menderita kanker payudara yang kemudian berobat ke “dukun” atau pengobatan alternatif. Enam bulan terakhir ternyata wanita ini tidak lagi bisa berjalan yang membuat dia dan suaminya pasrah kembali memutuskan pengobatan ke dokter. Alasan apakah yang menyebabkan mereka ke dukun atau pengobatan alternatif? Sulit untuk menjawabnya yang pasti bukan karena masalah biaya karena saya pastikan keluarga ini punya uang yang cukup untuk membiayai pengobatan di rumah sakit yang benar.

Pertemuan hari itu dengan si ibu sesungguhnya membuat saya cukup lega ditengah “kegalauan” cara masyarakat mencari dan mendapatkan pengobatan. Lega karena lumpuhnya belum begitu lama (kurang dari enam bulan) dan galau melihat kenyataan betapa primitifnya “masyarakat” kita dalam memutuskan pengobatan.

 

Begitu pemeriksaan lengkap antara lain pemeriksaan laboratorium yang memang mendukung pada suat keganasan, pemeriksaan foto rontgen yang menunjukkan kerusakan 3 ruas tulang belakang, pemeriksaan MRI, bone scan dan pemeriksaan histopatologi payudara maka saya dan beberapa dokter lain yang merawat memutuskan untuk dilaksanakan operasi tulang belakang dengan tujuan membebaskan saraf dari penekanan massa tumor, dan menstabilkan tulang belakang dengan penyangga titanium.

 

Rencana ini kami sampaikan kepada suami pasien terlebih dahulu dan kemudian kepada pasien. Cukup mengagetkan ketika serta merta suami pasien menolak untuk dilakukan tindakan karena merasa tidak ada manfaatnya. Suami penderita ‘keukeuh’ menginginkan apakah operasi dapat menghilangkan atau menyembuhkan pasien dari kanker payudaranya. Diskusi kami dengan suami pasien cukup alot. Saya memberikan beberapa literatur mengenai penanganan metastasis kanker payudara ke tulang belakang baik yang disertai lumpuh maupun tidak. Beberapa kali pertemuan belum juga bisa meyakinkan keluarga pasien akan tindakan operasi yang akan diambil. Pelaksanaan rencana operasi akhirnya ditunda hingga keluarga dan pasien betul2 yakin apakah tindakan operasi benar2 akan memberikan manfaat bagi nya.

 

“Baik dok…. kami sekeluarga akhirnya dapat memahami penatalaksanaan yang dokter ambil. Kami setuju akan rencana yang dokter sudah rancang. Dengan bismillah … silakan dok” akhirnya kesepakatan dapat dicapai seperti yang disampaikan oleh suami pasien.

Operasi kemudian dilakukan, dilanjutkan dengan kemoterapi setelah 3 minggu dst. Pemulihan dan kemajuan pasca operasi cukup menggembirakan. Latihan pemulihan tungkai dengan fisiotherapi teratur dilakukan mulai belajar duduk, berjalan dengan kursi roda, berjalan pakai tongkat dan akhirnya bisa berjalan.

 

Tujuh bulan pasca operasi ibu sudah mulai berjalan dengan satu tongkat. Ibu itu dapat berjalan lagi…. “Terima kasih dokter…. akhirnya saya kembali bisa berjalan seetelah sekian lama terbaring di tempat tidur.” ujar ibu itu suatu ketika saat kontrol.

Sungguh saya turut senang dengan apa yang dirasakan oleh ibu itu. Capaian ini adalah bonus dari yang maha kuasa untuk Anda…. rintihan telah berganti senyuman.

Disalin dari: https://www.facebook.com/notes/rahyus-salim/berjalan-lagi-setelah-operasi-sebaran-kanker-payudara-ke-tulang-belakang/10150967892773599

Categories : Saya dan pasien Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *