Aku menderita Skoliosis lebih dari 60 tahun

11 Maret 2009

“Aku memang penggemar kopi” jelas Professor Kimia itu sambil menyeruput kopi panas yang baru saja dihidangkan oleh seorang pelayan bar di lantai 8 hotel Acacia. Aku juga ikut-ikutan memesan kopi pahit mencoba mengikuti gaya seruput sang professor, siapa tau nasib professornya bisa pula melekat disisa kehidupanku.

“mmmh… srupppp” terdengar jelas suara dua tiga seruput kopi hangatku, professor dan seorang temanku yang juga ikut menemui sang Professor Kimia.
Sore yang mendung disertai hujan deras di pusat kota Jakarta itu membuat pembicaraan sedikit terasa kaku dan formil. Apalagi pertemuan saya dengan Professor Susanto Imam Rahayu ini adalah pertemuan dua generasi yang berbeda yang tidak disengaja.

Berawal dari salah seorang pegiat MSI (Masyarakat Skoliosis Indonesia) yang menghubungi saya dan menceritakan bahwa ternyata dalam realita seorang penderita skoliosis mampu berprestasi dan mencapai karier tertinggi di bidang yang digelutinya dan tetap mampu hidup tanpa sakit-sakitan di usia 74 tahun. Ehem……, tidak tanggung-tanggung Professor Susanto Imam Rahayu adalah salah seorang Professor Kimia di ITB Bandung yang juga  berkecimpung banyak didunia pendidikan tinggi Indonesia. Kalau Anda dulu pernah mengikuti UMPTN maka soal-soal kimia yang Anda kerjakan adalah soal-soal yang dibuat oleh beliau.

Buat saya sebagai seorang praktisi kedokteran yang begitu konsern dengan kasus-kasus skoliosis tentu hal ini sangat membuat surprise dan ingin menggali bagaimana gaya hidup seorang penderita skoliosis bisa mencapai suatu prestasi tertinggi yang orang normal pun mungkin sangat sulit mencapainya.

“Saya menyadari bahwa saya menderita skoliosis sejak SMA sekitar tahun 1950-an” begitu Professor Imam memulai pembicaraan “Dan asal Anda tahu bahwa pada saat itu belum ada dokter orthopaedi di Indonesia apalagi dokter ahli tulang belakang yang mampu mengoperasi tulang belakang seperti sekarang ini.” Professor Imam mencoba mengingat masa-masa muda nya.

“Dan mungkin karena saya laki-laki, saya tidak pernah merasa terganggu dengan kondisi tulang belakang yang bengkok walaupun sesungguhnya kadang-kadang saya agak merasa risih untuk buka baju ditengah teman-teman. Saya memang jadi tidak suka berenang hanya karena berenang harus membuka baju. Sementara olah raga lain seperti sepak bola, bulutangkis dan lainnya saya merasa tidak terganggu sama sekali.”

Professor Imam dengan lugas memulai pembicaraan mengenai skoliosis yang dideritanya bertahun-tahun tanpa rasa gangguan sedikitpun dan tidak menghalangi beliau berprestasi tinggi dan bahkan mencapai jenjang karier tinggi di perguruan tinggi terkenal di Indonesia.

Selama kurang lebih 2 jam kami berbincang-bincang mulai dari topik ringan berbicara tentang masa remaja sampai pada kasus serius mengenai sistem kesehatan dan sistem pendidikan Indonesia yang menurut beliau sangat perlu idealisme anak-anak muda dan masalah skoliosis beliau sendiri.

Saya tidak melihat sedikitpun kekurangan dalam hal kualitas hidup pada diri beliau. Bahkan saya melihat seorang sosok yang dapat menjadi contoh bagi seorang penderita skoliosis yang masih muda yang tidak perlu dilakukan operasi.

“Galilah potensi Anda dan tonjolkan potensi itu agar Anda bisa melupakan bahwa diri Anda  menderita skoliosis” Nasehat beliau ketika pembicaraan kami berakhir, sementara hujan diluar mulai berhenti diiringi suara Azan Maghrib yang bersahutan dibeberapa mesjid di sekitar Hotel Acacia. Kami akan sampaikan Nasehatmu Professor……

Categories : Pengalaman saya

2 thoughts on “Aku menderita Skoliosis lebih dari 60 tahun”

  1. Permisi, Dok..saya ingin mengajukan pertanyaan..Apakah penderita skoliosis dengan derajat kelengkungan yang masih terbilang ringan diperbolehkan untuk mengambil prodi kedokteran di ptn? Terimakasih..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *